Kamis, 12 Februari 2009

pada suatu perbani

Terik menelisik lautan untuk menguapkan angin
menelusur selasar jembatan yang mengungkunginya
menuduh konveksi air di dalam lautan mengaruskan air ke hilir
sementara di hulu pun tak lebih adalah
perputaran yang memusingkan ikan-ikan payau
lelah berpindah habitat bila pasang tiba
atau surut menyeret-nyeret raga kembali ke muara

pada suatu perbani yang berat
buat perjalanan sepasang roda motor
berlimpahan becek dan
basah kuyup diguyur cucuran langit
seorang manusia terkapar
'penat'
membuncahkan angan
demi sebuah pengabdian yang mengalir sendiri
menggulirkan tanya pada bumi yang bergolak
"Siapa yang mau ku ajak serta membangun peradaban?
meski tuan-tuan tanah telah menanaminya dengan
ambisi ketuhanan yang memiskinkan yang telah miskin?"

pada saat perbani telah berlalu
'penat' itu berkelebat pergi
tapi sejauh ini ia masih menanti
sepasang tangan atau mungkin lebih menyambutnya
mendirikan tenda-tenda darurat
di atas semak belukar yang telah terbakar
mencipta ekosistem suksesi
ia tawarkan sebentuk 'ketulusan'
tapi sedemikian berkabutkah penglihatan?
hingga kepercayaan tinggal nyali
yang terendap dan mati.

HEAL THE WORLD

spoken: Think about the generations and to say we want to make it a better world for our children and our children’s children. So that they know it’s a better world for them; and think if they can make it a better place.

There’s a place in your heart
And I know that it is love
And this place could be much
Brighter than tomorrow.
And if you really try
You’ll find there’s no need to cry
In this place you’ll feel
There’s no hurt or sorrow.
There are ways to get there
If you care enough for the living
Make a little space, make a better place.

Chorus:
Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for You and for me.
If you want to know why

There’s a love that cannot lie
Love is strong
It only cares for joyful giving.
If we try we shall see In this bliss we cannot feel
Fear or dread
We stop existing and start living
Then it feels that always
Love’s enough for us growing
Make a better world, make a better world.

Chorus: Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race.
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for You and for me.

Bridge: And the dream we would conceived in
Will reveal a joyful face
And the world we once believed in
Will shine again in grace
Then why do we keep strangling life
Wound this earth, crucify it’s soul
Though it’s plain to see, this world is heavenly
Be God’s glow.
We could fly so high
Let our spirits never die
In my heart I feel
You are all my brothers
Create a world with no fear
Together we’ll cry happy tears
See the nations turn
Their swords into plowshares
We could really get there
If you cared enough for the living
Make a little space to make a better place.

Chorus: Heal the world
Make it a better place
For you and for me and the entire human race
There are people dying
If you care enough for the living
Make a better place for
You and for me.
Refrain (2x)
There are people dying if you care enough for the living
Make a better place for you and for me.
There are people dying if you care enough for the living
Make a better place for you and for me.
You and for me / Make a better place You and for me / Make a better place You and for me / Make a better place You and for me / Heal the world we live in You and for me / Save it for our children You and for me / Heal the world we live in You and for me / Save it for our children You and for me / Heal the world we live in You and for me / Save it for our children You and for me / Heal the world we live in You and for me / Save it for our children

WE WILL NOT GO DOWN (GAZA TONIGHT)

A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go downIn Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight

Sabtu, 07 Februari 2009

Tinta ini Barangkali

Tinta ini barangkali bisu
tak mampu teriakkan maki
bila marah tengah menggelegak

Tak mampu pekikkan perih
bila luka kadang meradang

tak mampu gelakkan tawa
bila bahagia sedang merona

tapi
tinta ini terus mengalirkan kata
mencoba telusuri hatimu
tuk temukan sebutir 'kearifan'

KOLASE WAKTU

"Ada yang bilang waktu adalah obat yang paling mujarab dalam menyembuhkan luka. Tapi kenapa begitu banyak kenangan dan memoar yang dituliskan? Kenapa kuburan terus dipenuhi peziarah, mengenang yang sudah tiada? waktu ternyata tidak pernah bisa menghilangkan racun kesedihan. Membuatnya jadi tertahankan, iya. Tapi pedihnya akan tetap nyata. Dan masing-masing kita yang sudah terkena racun kesedihan menjadi manusia dengan racun yang masih bergerak dan berputar-putar mengalir bersama oksigen dalam darah. Terus ada di sana tanpa bisa hilang. Waktu hanya seperti adrenalin dosis tinggi yang membuat kita melupakan rasa sakit untuk beberapa saat yang membuat kita bisa terus melangkah."
Tulisan di atas pernah ditemukan oleh seorang sahabat pada sebuah artikel dan kemudian dikirimkannya padaku. Seuntai paragraf yang seketika menjawab gamang pertanyaanku selama ini 'kenapa ketegaran bisa runtuh sewaktu-waktu?'. Ternyata begitulah waktu. Waktu bukanlah saluran panjang serupa paralon yang kokoh, bisa dibersihkan hingga kita bisa memilih bagian mana dari kehidupan ini yang harus didelete. Tapi waktu adalah bentangan yang tak tergambarkan. Segala reaksi bisa terjadi di dalamnya, segala unsur bisa berkecamuk di dalamnya. dan segala yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Yang terlupakan bisa kembali nyata. Yang tak ada bisa hadir tiba-tiba. Pun bila tekanan udara sedang tidak bersahabat berubah menjadi angin puyuh, sekuat apapun kita berdiri di dalamnya sesekali bisa roboh atau paling tidak patah atau paling tidak lagi adalah retak.
Kalau waktu bisa dipilah-pilah, bahasan yang paling mungkin hanyalah berupa kolase waktu. Potongan-potongan cerita kehidupan dalam rentang tertentu dan tak pernah terselesaikan. Seperti ketika kita bercerita tentang kejadian di rumah tadi pagi lalu pada kesempatan lain akan bercerita tentang tempat yang berbeda dengan kejadian yang berbeda pula. Isi cerita itu sendiri kebanyakan hanyalah persepsi kita sendiri yang menceritakan. Kesimpulan sepihak yang dengan keterpaksaan orang lain untuk mengiyakannya dengan beragam alasan.
Berada pada satu kolase waktu beragam rasanya. Pada kondisi yang kita sepakati mungkin waktu akan berjalan sangat cepat. Tetapi sebaliknya berada pada kondisi yang menjengkelkan akan membuat waktu berjalan sangat lambat. Sebagai pelaku kehidupan, kita tidak pernah bisa memilih kolase waktu mana yang akan kita temui. Kita hanya berusaha menciptakan satu reaksi yang nyaman dengan memaksimalkan adrenalin penahan rasa sakit sampai pada batas waktu tertentu. Adrenalin itu bernama 'syukur' dan 'positif thinkinkg'. Tanpa keduanya, hidup hanyalah deretan kesuraman yang jenuh rasa sakit. Maka berusaha keraslah kita mendapatkan kesyukuran itu dengan terus mendekat pada Sang Maha Kuasa. Menumbuhkan optimisme yang sewaktu-waktu bisa layu dengan fikiran positif.
Menyadari keegoisan waktu yang ternyata hanya berjalan searah dengan skenario mutlak yang mau tidak mau harus kita hadapi, sepertinya kita pun tidak mampu berbuat banyak kecuali menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Maha Pengatur kehidupan, penentu Maha Sempurna. Berharap bahwa kesetiaan kita padaNya berbuah kasih sayang dan pertolonganNya.

Selasa, 27 Januari 2009

Kamis, 22 Januari 2009

pada suatu ketika,

Senin, 19 Januari 2009

19 Desember

Jogja, 19 Desember 2004
Matahari cerah
menghadiahkan toga di puncak kepalaku
dan berpuluh tangkai bunga dari sahabat-sahabatku

Tembilahan, 19 Desember 2005
Hujan menghentikan gelayut mendung dari wajahku
seorang sahabat telah berpulang lebih dulu
menujuMU

Tembilahan, 19 Desember 2006
hujan menyapa rumahku
patah lenganku

Jogja, 19 Desember 2007
Hujan menyapa Kaliurang
lunglai langkahku

Pekanbaru, 19 Desember 2008
Hujan juga menyapa Pekanbaru
patah hatiku

......................, 19 Desember 2009
Tuhan,
jika ku masih ada
jangan patahkan lagi
bagian tubuhku yang lain

Bubur

Sudah terlanjur,
maka biar saja jadi bubur
tambahkan saja bumbu
agar berasa

katamu:
biar kuolah bubur ini menjadi bubur ayam

kataku:
bukankah setara denganku?

Minggu, 21 Desember 2008

kerikil

kerikil itu: lepaskan saja
kau mengerti?

jangan kau lemparkan
dengan marahmu
tahanlah di tanganmu
ia bisa lebih berharga
untuk dipakai bersuci

atau
jika ingin kau lemparkan
serahkan saja pada tangan
balita mungil di Palestina
ia akan jadi senjata
pembela keadilan

tapi tidak dengan tanganmu
aku tak percaya
sebab yang kulihat
engkau hanya seorang "pecundang"

Sabtu, 22 November 2008

Mandikan Aku, Bunda

Rani, sebut saja begitu namanya. Kawan kuliah ini berotak cemerlang dan memiliki idealisme tinggi. Sejak masuk kampus, sikap dan konsep dirinya sudah jelas: meraih yang terbaik, di bidang akademis maupun profesi yang akan digelutinya. ”Why not the best,” katanya selalu, mengutip seorang mantan presiden Amerika.
Ketika Universitas mengirim mahasiswa untuk studi Hukum Internasional di Universiteit Utrecht, Belanda, Rani termasuk salah satunya. Saya lebih memilih menuntaskan pendidikan kedokteran. Berikutnya, Rani mendapat pendamping yang ‘’selevel”; sama-sama berprestasi, meski berbeda profesi.
Alifya, buah cinta mereka, lahir ketika Rani diangkat sebagai staf diplomat, bertepatan dengan tuntasnya suami dia meraih PhD. Lengkaplah kebahagiaan mereka. Konon, nama putera mereka itu diambil dari huruf pertama hijaiyah ”alif” dan huruf terakhir ”ya”, jadilah nama yang enak didengar: Alifya. Saya tak sempat mengira, apa mereka bermaksud menjadikannya sebagai anak yang pertama dan terakhir.
Ketika Alif, panggilan puteranya itu, berusia 6 bulan, kesibukan Rani semakin menggila. Bak garuda, nyaris tiap hari ia terbang dari satu kota ke kota lain, dan dari satu negara ke negara lain. Setulusnya saya pernah bertanya, ”Tidakkah si Alif terlalu kecil untuk ditinggal-tinggal? ” Dengan sigap Rani menjawab, ”Oh, saya sudah mengantisipasi segala sesuatunya. Everything is OK!” Ucapannya itu betul-betul ia buktikan. Perawatan dan perhatian anaknya, ditangani secara profesional oleh baby sittermahal. Rani tinggal mengontrol jadual Alif lewat telepon. Alif tumbuh menjadi anak yang tampak lincah, cerdas dan gampang mengerti.
Kakek-neneknya selalu memompakan kebanggaan kepada cucu semata wayang itu, tentang kehebatan ibu-bapaknya. Tentang gelar dan nama besar, tentang naik pesawat terbang, dan uang yang banyak. ”Contohlah ayah-bunda Alif, kalau Alif besar nanti.”
Begitu selalu nenek Alif, ibunya Rani, berpesan di akhir dongeng menjelang tidurnya.
Ketika Alif berusia 3 tahun, Rani bercerita kalau dia minta adik. Terkejut dengan permintaan tak terduga itu, Rani dan suaminya kembali menagih pengertian anaknya. Kesibukan mereka belum memungkinkan untuk menghadirkan seorang adik buat Alif. Lagi-lagi bocah kecil ini ”memahami” orang tuanya. Buktinya, kata Rani, ia tak lagi merengek minta adik. Alif, tampaknya mewarisi karakter ibunya yang bukan perengek. Meski kedua orangtuanya kerap pulang larut, ia jarang sekali ngambek.
Bahkan, tutur Rani, Alif selalu menyambut kedatangannya dengan penuh ceria. Maka, Rani menyapanya ”malaikat kecilku”. Sungguh keluarga yang bahagia, pikir saya. Meski kedua orangtuanya super sibuk, Alif tetap tumbuh penuh cinta. Diam-diam, saya iri pada keluarga ini.
Suatu hari, menjelang Rani berangkat ke kantor, entah mengapa Alif menolak dimandikan baby sitter. ”Alif ingin Bunda mandikan,” ujarnya penuh harap. Karuan saja Rani, yang detik ke detik waktunya sangat diperhitungkan, gusar. Ia menampik permintaan Alif sambil tetap gesit berdandan dan mempersiapkan keperluan kantornya. Suaminya pun turut membujuk Alif agar mau mandi dengan Tante Mien, baby sitter-nya. Lagi-lagi, Alif dengan pengertian menurut, meski wajahnya cemberut.
Peristiwa ini berulang sampai hampir sepekan. ”Bunda, mandikan aku!” kian lama suara Alif penuh tekanan. Toh, Rani dan suaminya berpikir, mungkin itu karena Alif sedang dalam masa pra-sekolah, jadinya agak lebih minta perhatian. Setelah dibujuk-bujuk, akhirnya Alif bisa ditinggal juga.
Sampai suatu sore, saya dikejutkan telponnya Mien, sang baby sitter. ”Bu dokter, Alif demam dan kejang-kejang. Sekarang di Emergency.” Setengah terbang, saya ngebut ke UGD. But it was too late. Allah swt sudah punya rencana lain. Alif, si malaikat kecil, keburu dipanggil pulang oleh-Nya.
Rani, ketika diberi tahu soal Alif, sedang meresmikan kantor barunya. Ia shock berat. Setibanya di rumah, satu-satunya keinginan dia adalah memandikan putranya. Setelah pekan lalu Alif mulai menuntut, Rani memang menyimpan komitmen untuk suatu saat memandikan anaknya sendiri.
Dan siang itu, janji Rani terwujud, meski setelah tubuh si kecil terbaring kaku. ”Ini Bunda Lif, Bunda mandikan Alif,” ucapnya lirih, di tengah jamaah yang sunyi. Satu persatu rekan Rani menyingkir dari sampingnya, berusaha menyembunyikan tangis.
Ketika tanah merah telah mengubur jasad si kecil, kamimasih berdiri mematung di sisi pusara. Berkali-kali Rani, sahabatku yang tegar itu, berkata, ”Ini sudah takdir, ya kan. Sama saja, aku di sebelahnya ataupun di seberang lautan, kalau sudah saatnya, ya dia pergi juga kan?” Saya diam saja. Rasanya Rani memang tak perlu hiburan dari orang lain. Suaminya mematung seperti tak bernyawa. Wajahnya pias, tatapannya kosong. ”Ini konsekuensi sebuah pilihan,” lanjut Rani, tetap mencoba tegar dan kuat. Hening sejenak. Angin senja meniupkan aroma bunga kamboja.
Tiba-tiba Rani berlutut. ”Aku ibunyaaa!” serunya histeris, lantas tergugu hebat. Rasanya baru kali ini saya menyaksikan Rani menangis, lebih-lebih tangisan yang meledak. ”Bangunlah Lif, Bunda mau mandikan Alif. Beri kesempatan Bunda sekali saja Lif. Sekali saja, Aliiif..” Rani merintih mengiba-iba. Detik berikutnya, ia menubruk pusara dan tertelungkup di atasnya. Air matanya membanjiri tanah merah yang menaungi jasad Alif. Senja pun makin tua.
Nasi sudah menjadi bubur, sesal tidak lagi menolong.Hal yang nampaknya sepele sering kali menimbulkan sesal dan kehilangan yang amat sangat.
Sering kali orang sibuk ‘di luaran’, asik dengan dunianya dan ambisinya sendiri tidak mengabaikan orang-orang di dekatnya yang disayanginya. Akan masih ada waktu ‘nanti’ buat mereka jadi abaikan saja dulu.
Sering kali orang takabur dan merasa yakin bahwa pengertian dan kasih sayang yang diterimanya tidak akan hilang. Merasa mereka akan mengerti karena mereka menyayanginya dan tetap akan ada.
source : sahabat kehidupan

Kontemplasi Layar Kosong

Aku tak punya kata yang pantas untuk kutuliskan kali ini, kawan. Sekian menit layar ini kosong tak mengeja kata apa pun. Entah apakah aku telah kehabisan ide untuk kutulis atau mungkin aku sudah tak ingin menuliskan apa-apa lagi. Hari-hari ini mungkin mengajarkan banyak hal, sayang tak semua terekam dengan bijaksana. Menurutmu, apakah kita termasuk ke dalam orang-orang yang merugi ketika tak pandai lagi memaknai kehidupan. Barangkali iya, menurutku. Dan aku sedemikian takut ketika kontemplasi demi kontemplasi yang kudapati tak menyisakan sepercik kesejukan dalam hati. Allah... ampuni bila kezaliman diri tlah membuat hati tak peka akan karunia yang semestinya melahirkan jutaan ungkap syukur. Ya... syukur yang yang tak hanya berupa untaian kalimat, tapi juga syukur yang nyata mewujud dalam amal. Maka ingatkan aku ya, Rabb...
Terkadang, tanya ini berseloroh pada kalimat "For this life...Just flow like the water". barangkali filosofi itu mesti kurenungkan lebih dalam. Air, yang selalu mengalir... Bukan air yang menggenang dan menjadi sumber penyakit, tempat menjadi-jadinya blooming algae. Maka hadirkanlah kelapangan dan ketentraman setiap kali menjalankan amanahMU ya Rabb, dalam lelah ataupun tidak. dalam duka maupun suka. Dalam apa pun yang ENGKAU kehendaki menjadi bagian kehidupan ini, menuntaskan satu demi satu tahapan yang ENGKAU ingini untuk membuat manusia lebih manusiawi.

Jumat, 07 November 2008

Ingatkan Aku Ya Allah

Hari beranjak siang. Seperti biasa aku pergi ke kantor dengan menggunakan motor. Bekasi to Jakart. Suatu hal yang biasa, yang selalu ku lalui sehari - hari.
Macet sehingga kemudian Stress dan capai juga hampir selalu menemani kepergianku menuju tempat mencari nafkah,mulai dari Macet di Kalimalang, Cawang sampai pancoran, terus sampai mampang…Masya Allah..
Untuk mengusir stress karena macet.. biasanya aku bernyanyi dengan lagu - lagu terbaru, dengan lagu - lagu yang aku sukai…
Ah.. lagunya anak - anak band masa sekarang…
Kala itu aku sampai di Mampang, terhenti karena lampu merah.Seperti biasa aku bersenandung sambil memperhatikan keadaan sekitar, mencari hal - hal yang menarik yang dapat dilihat, Tetapi kemudian… Ah… Mataku tertumbuk pada lampu lalulintas,kali ini bukan lampu merahnya tapi counter penghitung waktu lampu merah…
detik demi detik kuperhatikan..mulai dari detik ke 90…tik..tik..tik…
lama - lama aku tersadar…Ya Allah…Seandainya waktu menunggu ini kupergunakan untuk berzikir mengingat engkau…maka berapa banyak kalimat zikir yang dapat aku lakukan…
aku mulai menghitung dengan matematika sederhana…lampu merah biasanya 90 detik…jika setiap 2 detik aku beristighfar misalnya…maka aku dapat melakukannya sebanyak 45 kali…
kalau aku melakukannya disepanjang perjalananku…misalnya 45 menit…Maka Subhanallah… 45 * 60 / 2 = 1350 kali…
Bagaimana jikalau aku melakukannya disetiap hembusan nafasku…
langsung ku teringat…
“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman,(yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna…(Al Mu’minun:1-3)
“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. ” (Al- ‘Ashr :1-3)
Ya Allah…Ampuni aku yang telah menyia-nyiakan setiap detik waktu darimu…Ampuni aku yang telah banyak melakukan perbuatan yang sia - sia….
Ya Allah..Ingatkanlah aku jika aku lupa kepada-Mu…

Rabu, 29 Oktober 2008

reuni




SVCD ini dipersembahkan untuk teman-teman alumni SMUNDA 2000

Sabtu, 18 Oktober 2008

...

Rabbi....
ini yang terakhir...
sungguh...
dan aku tak tahu lagi...
setelah ini...
apakah masih KAU sisakan...
sebutir kekuatan...
...
...
...

Kamis, 09 Oktober 2008

SANG MURRABI

KLIK HERE, PLEASE!! http://jembatandunia.blogspot.com/2008/05/sang-murrabi.html

Senin, 06 Oktober 2008

REUNI

Hidup ini berfase. Ada tahap-tahapnya. Aku tahu itu, misalnya dari kecil lalu tumbuh menjadi besar, dari kanak-kanak menjadi dewasa. Ada perkembangan biologis dan psikologis yang menyertainya. Ya, aku tahu itu. Kadangkala ada orang-orang yang menertawakan proses itu. Tapi biar saja. Aku tak peduli. Aku menikmatinya. Menikmati proses-proses itu dan menyerap sebanyak mungkin pelajaran darinya. Bukankah Tuhan menyuruh kita belajar sepanjang hidup?

Seperti ketika orang bertemu dengan teman-teman lamanya dalam sebuah perlehatan reuni akbar atau sekedar silaturahim kecil-kecilan. Sejenak melupakan persoalan yang tengah dihadapinya kini dan mengharu biru dalam secuil kenangan masa silam. Bercengkerama dalam gelak tawa dan canda yang lebih elegan pastinya sebab pemikiran pun bermetamorfosis lebih sempurna. Apa salahnya? Dari sana juga banyak pelajaran yang bisa diambil tidak sekedar dikenang. Jika hidup hari ini harus dilanjutkan, memang seharusnya demikian. Masa lalu tidak selamanya harus dibuang dan dilupakan. Masa lalu yang tidak sepenuhnya indah pun juga masih bisa diperbaiki dengan memperbaiki cara pandangnya. Dan kalau mau jujur bukankah ruang hati kita terlalu luas untuk sekedar diisi oleh peristiwa hari ini? Bukankah personil-personil masa lalu itu juga masih menempati sebagian ruangnya, bahkan kadang tak terganti. Terlepas dari slogan yang menempel padanya ‘benci’ atau ‘sayang’. Ah, yang benar saja jika ada orang yang sepenuhnya bisa membabat habis rasa sampai menjadi tak berasa. Kalau kita melibatkan hati dalam setiap empati, rasanya tak mudah mengubah yang berisi menjadi kosong kembali. Terlebih bila empati itu dititipkan pada Sang Maha Menjaga, bisa diambil kapan saja tanpa perlu merasa luka.

Aku pernah membaca bab bernama persahabatan. Aku kini lebih senang membahasnya dalam tema ‘persaudaraan’. Di sana ada point berjudul ITSAR, dilanjutkan dengan KELAPANGAN HATI, lalu KEIKHLASAN dan ternyata berujung pada CINTA pada-NYA.

Hidup itu…Subhanallah, kataku pada akhirnya. Kadangkala, sungguh canda tawa itu diperlukan agar hidup ini tak melulu belukar. Terimakasih ya Rabb, atas rezekiMU..baik berupa uang, makanan, kesehatan, keluarga, sahabat-sahabat yang baik, ketentraman hati, kemudahan untuk beramal sholeh dan ampuni jika kami masih menanyakan keadilan dan mengeluhkan dari sedikit yang ENGKAU ujikan pada kami.

Beragam kabar tentunya saat menyapa beragam saudara, tapi syukur semoga senantiasa mengakar dalam untaian lisan yang terlepas hingga berujud doa yang demikian indah dimohonkan padaNya. Doa yang menjadi satu-satunya penyangga saat ikhtiar serasa tak lagi bertenaga. Doa juga yang masih mungkin dipersembahkan saat salam enggan bersahut atau raga tak dapat bersua sebab jarak yang menjadi pemisah atau kabar yang hilang jejak.

Pergiliran roda kehidupan itu kini terbaca nyata di hadapanku, tak sekedar membacanya tapi kemudian membuatku berfikir lebih jauh bahwa setiap saat kita mesti bersiap berada di posisi mana pun dengan kesabaran dan kesyukuran. Saat bahagia siap dibagi atau pun saat duka siap direguk maknanya. Akan sama indahnya tatkala diresapi dengan kebeningan hati bahwa Allah Mencintai setiap hambaNya.

Selasa, 19 Agustus 2008

Air mata

Maka penat itu berkelebat, menjelma menjadi keluh dalam tangis hujan yang membuatku basah kuyup suatu siang yang terik pada mulanya. Berpeluh harapan melangkah jua sepasang kaki mengenang masa depan yang barangkali akan sampai jua kutapaki. Barangkali saat ini ketika hujan deras bergelimpangan letih dan kedinginan kita di sini, ujarnya salah seorang rekan yang bermandikan perjuangan menempuh jalanan basah berlumpur...barangkali di tempat lain ada orang yang mati ditabrak truk, ada yang baru lahir menjadi bayi mungil, ada yang sedang sekarat menjemput maut. Maka beruntunglah kita hanya berucap lelah dan pasrah dalam perjuangan menempuh amanah negara ini. Barangkali..katanya lagi...suatu saat, nasib akan berpihak pada kita.
Aku tersenyum sambil menangis, menunggu pergantian hari yang mungkin lebih baik. Seorang penjaja makanan kecil di kedai kecil di pinggir laut bercerita tentang sepasang kepiting yang baru dibelinya dari seorang nelayan di pantai. Dengan wajahnya yang pias kebahagiaan ditunjukkannya padaku "Bu, begini ini cara memasaknya..pertama potong dulu kaki depannya, lalu...bla bla bla...".
Aku menyaksikan sambil harap-harap pias mengingat hujan di luar yang tak kunjung reda dan sholat zuhur yang belum kutunaikan hingga pukul 1.30 siang. Tangisku surut dan berganti senyum. Ia saja bisa berbahagia dengan hidup apa adanya. Kukenang tempatku berpijak ketika geram kepedihan mulai bergelimpangan membanjiri amarah dan adrenalin yang memuncak karena marahku yang nyaris tumpah.
"Laut kering, Bu. Jadi sampan kita kan lengket jika diteruskan melayar...", seorang penambang berujar dari luar. Aku bisa tersenyum kini.
"Tak apa, Pak. Kami sedang belajar memasak Kepiting, sambil menunggu hujan reda dan pasang naik", kataku.
Sebuah SMS masuk ke handphone ku
"UKHTI, SORE INI RAPAT JAM 4 SORE".
Air mata. Kenapa mudah sekali menitik. Bahkan ketika aku masih di perjalanan belum bisa pulang karena hujan dan laut kering. Ya, akhirnya kupahami...kadangkala oranglain tak mengerti kesusahan ini bila tak dijelaskan.
"INSYAALLAH...DOAKAN SAYA BISA PULANG SECEPATNYA"
serentetan agenda berkeliaran di benakku. Berita yang harus di faks, RPP yangbelum selesai, komputer yang rusak, acara pekan depan.... dan kantung bajuku yang menyisakan uang lima ribu rupiah.
Rabbi...ku tahu Engkau Maha Melihat.

Minggu, 17 Agustus 2008

Upacara di Tepian Pulau




Tujuh belas Agustus menjadi moment bersejarah bagi bangsa Indonesia. Tidak terkecuali juga bagi masyarakat marginal di tepian Riau yang masih memaknai kemerdekaan.


berikut dokumentasi sebuah upacara sederhana yang khidmat di desa Tanjung Siantar. ternyata kisah laskar Pelangi juga ada di sini.


Sabtu, 09 Agustus 2008

Tentang Orang-orang Terluka

Barangkali di hatinya ada celah yang terabaikan sehingga sandarannya tidak kokoh. Kalau sebutir pasir masuk, maka debu pun apalagi. Maka segala perca kehidupan yang kecil masuk ke dalam celah itu. Maka seolah-olah ruang itu jadi penuh. Seolah penuh dengan asa padahal dosa yang tercipta karena tumpukan noda yang datang satu demi satu, lalu menutupi kebeningan si hati. Kasihan sekali mereka yang terluka karena hatinya sendiri. Sandaran pun roboh. Takdir dipersalahkan. Hati pun luka, sakit, perih dan berkarat. Ribuan keluh bermunculan. Rasanya pedih.
Kawan...mari kita analisis kenapa orang terkadang bisa terluka. Kenapa bisa kecewa. Ternyata bermula dari celah kecil di hati yang lupa ditutupi. Barangkali karena lalai atau terlena dengan urusan-urusan dunia. Kesalahan kecil yang fatal. Salah meletakkan harap bukan padaNya. Sebab bila harapan diletakkan padaNYa, kerinduan akan wajahNya saja yang ada. Apapun akhirnya adalah pemberian terbaik yang diberikanNya. Berbanggalah semestinya, sebab Dia memberikan sesuatu yang spektakuler berupa rahasia yang masih akan tersingkap di kemudian hari saat kita telah memahami inginNya. Pasti ada hikmah dari semua peristiwa, hanya saja kita terlalu awam untuk memahami.
Barangkali juga bukan sekarang kita baca, tapi esok saat hari ini telah menjadi masa lalu. Berlalulah luka, tak mengapa. Ini hidup, untaian tarbiyah tak berjeda kecuali kita membuat jeda yang panjang.
Lalu, tentang jenuh. Apa ya obatnya? semakin dipikirkan ternyata cuma kebencian yang menggunung. Segalanya memang membosankan kecuali kita tetap setia padaNya. Seperti elang yang membutuhkan angkasa luas untuk terbang melanglang buana dan kitari dunia. Bila tak ada yang didapati, ya sudah terima sajka apa yang ada. Keajaiban selalu ada bila peka kita melaluinya. Biarlah segala luka hanya sesaat saji. Nikmati hakikatnya. Resapi filosofinya. Maka kita akan kaya kontemplasi.
Hidup itu berjalan ke depan dan bukan mundur ke belakang, maka yang masih ada di depan dan menjadi milik kita pastilah satu saat akan kita capai. Jika bukan maka akan kita lalui. Itu saja, ridho dengan kehendakNya dan yakin bahwa itu adalah yang terbaik. Apa pun namanya, apapun bentuknya, adalah hadiah terindah untuk jiwa yang indah memaknai hidup dengan indah. Selamat menapaki hari baru. Get the spirit of ikhlas. (Rieve)