Terik menelisik lautan untuk menguapkan angin
menelusur selasar jembatan yang mengungkunginya
menuduh konveksi air di dalam lautan mengaruskan air ke hilir
sementara di hulu pun tak lebih adalah
perputaran yang memusingkan ikan-ikan payau
lelah berpindah habitat bila pasang tiba
atau surut menyeret-nyeret raga kembali ke muara
pada suatu perbani yang berat
buat perjalanan sepasang roda motor
berlimpahan becek dan
basah kuyup diguyur cucuran langit
seorang manusia terkapar
'penat'
membuncahkan angan
demi sebuah pengabdian yang mengalir sendiri
menggulirkan tanya pada bumi yang bergolak
"Siapa yang mau ku ajak serta membangun peradaban?
meski tuan-tuan tanah telah menanaminya dengan
ambisi ketuhanan yang memiskinkan yang telah miskin?"
pada saat perbani telah berlalu
'penat' itu berkelebat pergi
tapi sejauh ini ia masih menanti
sepasang tangan atau mungkin lebih menyambutnya
mendirikan tenda-tenda darurat
di atas semak belukar yang telah terbakar
mencipta ekosistem suksesi
ia tawarkan sebentuk 'ketulusan'
tapi sedemikian berkabutkah penglihatan?
hingga kepercayaan tinggal nyali
yang terendap dan mati.
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Kamis, 12 Februari 2009
Sabtu, 07 Februari 2009
Tinta ini Barangkali
Tinta ini barangkali bisu
tak mampu teriakkan maki
bila marah tengah menggelegak
Tak mampu pekikkan perih
bila luka kadang meradang
tak mampu gelakkan tawa
bila bahagia sedang merona
tapi
tinta ini terus mengalirkan kata
mencoba telusuri hatimu
tuk temukan sebutir 'kearifan'
tak mampu teriakkan maki
bila marah tengah menggelegak
Tak mampu pekikkan perih
bila luka kadang meradang
tak mampu gelakkan tawa
bila bahagia sedang merona
tapi
tinta ini terus mengalirkan kata
mencoba telusuri hatimu
tuk temukan sebutir 'kearifan'
Senin, 19 Januari 2009
19 Desember
Jogja, 19 Desember 2004
Matahari cerah
menghadiahkan toga di puncak kepalaku
dan berpuluh tangkai bunga dari sahabat-sahabatku
Tembilahan, 19 Desember 2005
Hujan menghentikan gelayut mendung dari wajahku
seorang sahabat telah berpulang lebih dulu
menujuMU
Tembilahan, 19 Desember 2006
hujan menyapa rumahku
patah lenganku
Jogja, 19 Desember 2007
Hujan menyapa Kaliurang
lunglai langkahku
Pekanbaru, 19 Desember 2008
Hujan juga menyapa Pekanbaru
patah hatiku
......................, 19 Desember 2009
Tuhan,
jika ku masih ada
jangan patahkan lagi
bagian tubuhku yang lain
Matahari cerah
menghadiahkan toga di puncak kepalaku
dan berpuluh tangkai bunga dari sahabat-sahabatku
Tembilahan, 19 Desember 2005
Hujan menghentikan gelayut mendung dari wajahku
seorang sahabat telah berpulang lebih dulu
menujuMU
Tembilahan, 19 Desember 2006
hujan menyapa rumahku
patah lenganku
Jogja, 19 Desember 2007
Hujan menyapa Kaliurang
lunglai langkahku
Pekanbaru, 19 Desember 2008
Hujan juga menyapa Pekanbaru
patah hatiku
......................, 19 Desember 2009
Tuhan,
jika ku masih ada
jangan patahkan lagi
bagian tubuhku yang lain
Bubur
Sudah terlanjur,
maka biar saja jadi bubur
tambahkan saja bumbu
agar berasa
katamu:
biar kuolah bubur ini menjadi bubur ayam
kataku:
bukankah setara denganku?
maka biar saja jadi bubur
tambahkan saja bumbu
agar berasa
katamu:
biar kuolah bubur ini menjadi bubur ayam
kataku:
bukankah setara denganku?
Minggu, 21 Desember 2008
kerikil
kerikil itu: lepaskan saja
kau mengerti?
jangan kau lemparkan
dengan marahmu
tahanlah di tanganmu
ia bisa lebih berharga
untuk dipakai bersuci
atau
jika ingin kau lemparkan
serahkan saja pada tangan
balita mungil di Palestina
ia akan jadi senjata
pembela keadilan
tapi tidak dengan tanganmu
aku tak percaya
sebab yang kulihat
engkau hanya seorang "pecundang"
kau mengerti?
jangan kau lemparkan
dengan marahmu
tahanlah di tanganmu
ia bisa lebih berharga
untuk dipakai bersuci
atau
jika ingin kau lemparkan
serahkan saja pada tangan
balita mungil di Palestina
ia akan jadi senjata
pembela keadilan
tapi tidak dengan tanganmu
aku tak percaya
sebab yang kulihat
engkau hanya seorang "pecundang"
Rabu, 30 Juli 2008
invisible meaning
Bagaimana bisa kau hijaukan seresah
Bila daunmu meranggas
Bagaimana mungkin kau sirami gersang pematang
Bila tubuhmu layu
Bagaimana bisa kau ceritakan tentang hujan
Bila kemarau tak berkesudahan
Sementara air matamu saja kian deras
Mengalirkan pupus harapan
Dan
Ketika kau terkapar
Sekarat dalam entah
Mereka belum mengerti
Tak pernah tahu akan lukamu
Kau rasa sendiri
Duhai hati…tabahlah
Sejenak sandarkanlah lelah
Pada kemahaanNYA
Bila daunmu meranggas
Bagaimana mungkin kau sirami gersang pematang
Bila tubuhmu layu
Bagaimana bisa kau ceritakan tentang hujan
Bila kemarau tak berkesudahan
Sementara air matamu saja kian deras
Mengalirkan pupus harapan
Dan
Ketika kau terkapar
Sekarat dalam entah
Mereka belum mengerti
Tak pernah tahu akan lukamu
Kau rasa sendiri
Duhai hati…tabahlah
Sejenak sandarkanlah lelah
Pada kemahaanNYA
Senja Itu Jingga
Jogja terlihat merah dalam tatapku kala itu
Seketika merona putih saat air wudhu
membasuh semburat wajahmu yang letih…
Dan kerlingmu yang ‘tabah’ tak bisa kulupa
Meski senyummu masih saja bicara
tentang inginmu tuk bahasakan krama
Aku mengerti,
Bahwa dadamu buncah tangis
Sebab sekerat beban menoreh payah langkahmu
Aku hanya bisa menepuk pundakmu dalam sekantung doa
Agar kita mampu tuntaskan amanah
Aku bangga padamu
‘sabarlah’
Kita memang sedang belajar dewasa
Menjadi orang tua
Dan,
Senja jadi jingga dalam tatapku
Ketika matahari sempurna kembali
Mari, kita pulang dulu
Hempaskan penat.
Langganan:
Postingan (Atom)
