Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Februari 2009

pada suatu perbani

Terik menelisik lautan untuk menguapkan angin
menelusur selasar jembatan yang mengungkunginya
menuduh konveksi air di dalam lautan mengaruskan air ke hilir
sementara di hulu pun tak lebih adalah
perputaran yang memusingkan ikan-ikan payau
lelah berpindah habitat bila pasang tiba
atau surut menyeret-nyeret raga kembali ke muara

pada suatu perbani yang berat
buat perjalanan sepasang roda motor
berlimpahan becek dan
basah kuyup diguyur cucuran langit
seorang manusia terkapar
'penat'
membuncahkan angan
demi sebuah pengabdian yang mengalir sendiri
menggulirkan tanya pada bumi yang bergolak
"Siapa yang mau ku ajak serta membangun peradaban?
meski tuan-tuan tanah telah menanaminya dengan
ambisi ketuhanan yang memiskinkan yang telah miskin?"

pada saat perbani telah berlalu
'penat' itu berkelebat pergi
tapi sejauh ini ia masih menanti
sepasang tangan atau mungkin lebih menyambutnya
mendirikan tenda-tenda darurat
di atas semak belukar yang telah terbakar
mencipta ekosistem suksesi
ia tawarkan sebentuk 'ketulusan'
tapi sedemikian berkabutkah penglihatan?
hingga kepercayaan tinggal nyali
yang terendap dan mati.

Sabtu, 07 Februari 2009

Tinta ini Barangkali

Tinta ini barangkali bisu
tak mampu teriakkan maki
bila marah tengah menggelegak

Tak mampu pekikkan perih
bila luka kadang meradang

tak mampu gelakkan tawa
bila bahagia sedang merona

tapi
tinta ini terus mengalirkan kata
mencoba telusuri hatimu
tuk temukan sebutir 'kearifan'

Senin, 19 Januari 2009

19 Desember

Jogja, 19 Desember 2004
Matahari cerah
menghadiahkan toga di puncak kepalaku
dan berpuluh tangkai bunga dari sahabat-sahabatku

Tembilahan, 19 Desember 2005
Hujan menghentikan gelayut mendung dari wajahku
seorang sahabat telah berpulang lebih dulu
menujuMU

Tembilahan, 19 Desember 2006
hujan menyapa rumahku
patah lenganku

Jogja, 19 Desember 2007
Hujan menyapa Kaliurang
lunglai langkahku

Pekanbaru, 19 Desember 2008
Hujan juga menyapa Pekanbaru
patah hatiku

......................, 19 Desember 2009
Tuhan,
jika ku masih ada
jangan patahkan lagi
bagian tubuhku yang lain

Bubur

Sudah terlanjur,
maka biar saja jadi bubur
tambahkan saja bumbu
agar berasa

katamu:
biar kuolah bubur ini menjadi bubur ayam

kataku:
bukankah setara denganku?

Minggu, 21 Desember 2008

kerikil

kerikil itu: lepaskan saja
kau mengerti?

jangan kau lemparkan
dengan marahmu
tahanlah di tanganmu
ia bisa lebih berharga
untuk dipakai bersuci

atau
jika ingin kau lemparkan
serahkan saja pada tangan
balita mungil di Palestina
ia akan jadi senjata
pembela keadilan

tapi tidak dengan tanganmu
aku tak percaya
sebab yang kulihat
engkau hanya seorang "pecundang"

Rabu, 30 Juli 2008

invisible meaning

Bagaimana bisa kau hijaukan seresah
Bila daunmu meranggas
Bagaimana mungkin kau sirami gersang pematang
Bila tubuhmu layu
Bagaimana bisa kau ceritakan tentang hujan
Bila kemarau tak berkesudahan

Sementara air matamu saja kian deras
Mengalirkan pupus harapan
Dan
Ketika kau terkapar
Sekarat dalam entah
Mereka belum mengerti
Tak pernah tahu akan lukamu
Kau rasa sendiri

Duhai hati…tabahlah
Sejenak sandarkanlah lelah
Pada kemahaanNYA

Senja Itu Jingga

Jogja terlihat merah dalam tatapku kala itu


Seketika merona putih saat air wudhu

membasuh semburat wajahmu yang letih…

Dan kerlingmu yang ‘tabah’ tak bisa kulupa

Meski senyummu masih saja bicara

tentang inginmu tuk bahasakan krama

Aku mengerti,

Bahwa dadamu buncah tangis

Sebab sekerat beban menoreh payah langkahmu

Aku hanya bisa menepuk pundakmu dalam sekantung doa

Agar kita mampu tuntaskan amanah

Aku bangga padamu

‘sabarlah’

Kita memang sedang belajar dewasa

Menjadi orang tua

Dan,

Senja jadi jingga dalam tatapku

Ketika matahari sempurna kembali

Mari, kita pulang dulu

Hempaskan penat.