A blinding flash of white light
Lit up the sky over Gaza tonight
People running for cover
Not knowing whether they’re dead or alive
They came with their tanks and their planes
With ravaging fiery flames
And nothing remains
Just a voice rising up in the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go downIn Gaza tonight
Women and children alike
Murdered and massacred night after night
While the so-called leaders of countries afar
Debated on who’s wrong or right
But their powerless words were in vain
And the bombs fell down like acid rain
But through the tears and the blood and the pain
You can still hear that voice through the smoky haze
We will not go down
In the night, without a fight
You can burn up our mosques and our homes and our schools
But our spirit will never die
We will not go down
In Gaza tonight
Kamis, 12 Februari 2009
Sabtu, 07 Februari 2009
Tinta ini Barangkali
Tinta ini barangkali bisu
tak mampu teriakkan maki
bila marah tengah menggelegak
Tak mampu pekikkan perih
bila luka kadang meradang
tak mampu gelakkan tawa
bila bahagia sedang merona
tapi
tinta ini terus mengalirkan kata
mencoba telusuri hatimu
tuk temukan sebutir 'kearifan'
tak mampu teriakkan maki
bila marah tengah menggelegak
Tak mampu pekikkan perih
bila luka kadang meradang
tak mampu gelakkan tawa
bila bahagia sedang merona
tapi
tinta ini terus mengalirkan kata
mencoba telusuri hatimu
tuk temukan sebutir 'kearifan'
KOLASE WAKTU
"Ada yang bilang waktu adalah obat yang paling mujarab dalam menyembuhkan luka. Tapi kenapa begitu banyak kenangan dan memoar yang dituliskan? Kenapa kuburan terus dipenuhi peziarah, mengenang yang sudah tiada? waktu ternyata tidak pernah bisa menghilangkan racun kesedihan. Membuatnya jadi tertahankan, iya. Tapi pedihnya akan tetap nyata. Dan masing-masing kita yang sudah terkena racun kesedihan menjadi manusia dengan racun yang masih bergerak dan berputar-putar mengalir bersama oksigen dalam darah. Terus ada di sana tanpa bisa hilang. Waktu hanya seperti adrenalin dosis tinggi yang membuat kita melupakan rasa sakit untuk beberapa saat yang membuat kita bisa terus melangkah."
Tulisan di atas pernah ditemukan oleh seorang sahabat pada sebuah artikel dan kemudian dikirimkannya padaku. Seuntai paragraf yang seketika menjawab gamang pertanyaanku selama ini 'kenapa ketegaran bisa runtuh sewaktu-waktu?'. Ternyata begitulah waktu. Waktu bukanlah saluran panjang serupa paralon yang kokoh, bisa dibersihkan hingga kita bisa memilih bagian mana dari kehidupan ini yang harus didelete. Tapi waktu adalah bentangan yang tak tergambarkan. Segala reaksi bisa terjadi di dalamnya, segala unsur bisa berkecamuk di dalamnya. dan segala yang tak mungkin bisa menjadi mungkin. Yang terlupakan bisa kembali nyata. Yang tak ada bisa hadir tiba-tiba. Pun bila tekanan udara sedang tidak bersahabat berubah menjadi angin puyuh, sekuat apapun kita berdiri di dalamnya sesekali bisa roboh atau paling tidak patah atau paling tidak lagi adalah retak.
Kalau waktu bisa dipilah-pilah, bahasan yang paling mungkin hanyalah berupa kolase waktu. Potongan-potongan cerita kehidupan dalam rentang tertentu dan tak pernah terselesaikan. Seperti ketika kita bercerita tentang kejadian di rumah tadi pagi lalu pada kesempatan lain akan bercerita tentang tempat yang berbeda dengan kejadian yang berbeda pula. Isi cerita itu sendiri kebanyakan hanyalah persepsi kita sendiri yang menceritakan. Kesimpulan sepihak yang dengan keterpaksaan orang lain untuk mengiyakannya dengan beragam alasan.
Berada pada satu kolase waktu beragam rasanya. Pada kondisi yang kita sepakati mungkin waktu akan berjalan sangat cepat. Tetapi sebaliknya berada pada kondisi yang menjengkelkan akan membuat waktu berjalan sangat lambat. Sebagai pelaku kehidupan, kita tidak pernah bisa memilih kolase waktu mana yang akan kita temui. Kita hanya berusaha menciptakan satu reaksi yang nyaman dengan memaksimalkan adrenalin penahan rasa sakit sampai pada batas waktu tertentu. Adrenalin itu bernama 'syukur' dan 'positif thinkinkg'. Tanpa keduanya, hidup hanyalah deretan kesuraman yang jenuh rasa sakit. Maka berusaha keraslah kita mendapatkan kesyukuran itu dengan terus mendekat pada Sang Maha Kuasa. Menumbuhkan optimisme yang sewaktu-waktu bisa layu dengan fikiran positif.
Menyadari keegoisan waktu yang ternyata hanya berjalan searah dengan skenario mutlak yang mau tidak mau harus kita hadapi, sepertinya kita pun tidak mampu berbuat banyak kecuali menyerahkan diri sepenuhnya kepada Sang Maha Pengatur kehidupan, penentu Maha Sempurna. Berharap bahwa kesetiaan kita padaNya berbuah kasih sayang dan pertolonganNya.
Selasa, 27 Januari 2009
Kamis, 22 Januari 2009
Senin, 19 Januari 2009
19 Desember
Jogja, 19 Desember 2004
Matahari cerah
menghadiahkan toga di puncak kepalaku
dan berpuluh tangkai bunga dari sahabat-sahabatku
Tembilahan, 19 Desember 2005
Hujan menghentikan gelayut mendung dari wajahku
seorang sahabat telah berpulang lebih dulu
menujuMU
Tembilahan, 19 Desember 2006
hujan menyapa rumahku
patah lenganku
Jogja, 19 Desember 2007
Hujan menyapa Kaliurang
lunglai langkahku
Pekanbaru, 19 Desember 2008
Hujan juga menyapa Pekanbaru
patah hatiku
......................, 19 Desember 2009
Tuhan,
jika ku masih ada
jangan patahkan lagi
bagian tubuhku yang lain
Matahari cerah
menghadiahkan toga di puncak kepalaku
dan berpuluh tangkai bunga dari sahabat-sahabatku
Tembilahan, 19 Desember 2005
Hujan menghentikan gelayut mendung dari wajahku
seorang sahabat telah berpulang lebih dulu
menujuMU
Tembilahan, 19 Desember 2006
hujan menyapa rumahku
patah lenganku
Jogja, 19 Desember 2007
Hujan menyapa Kaliurang
lunglai langkahku
Pekanbaru, 19 Desember 2008
Hujan juga menyapa Pekanbaru
patah hatiku
......................, 19 Desember 2009
Tuhan,
jika ku masih ada
jangan patahkan lagi
bagian tubuhku yang lain
Bubur
Sudah terlanjur,
maka biar saja jadi bubur
tambahkan saja bumbu
agar berasa
katamu:
biar kuolah bubur ini menjadi bubur ayam
kataku:
bukankah setara denganku?
maka biar saja jadi bubur
tambahkan saja bumbu
agar berasa
katamu:
biar kuolah bubur ini menjadi bubur ayam
kataku:
bukankah setara denganku?
Langganan:
Postingan (Atom)
